Posted by: elizabethfang on: November 4, 2008
Kinsun Loh
Asian Batman Sketchman
Jangan kira gambar sosok Batman yang selama ini Anda baca di komik sepenuhnya merupakan kreasi American. Beberapa gambar diantaranya merupakan goresan tangan seorang pria Asia. Namanya, Kinsun Loh.
Sewaktu membuat janji temu dengan pria kreator sosok Batman di Asia ini, saya membayangkannya sebagai pria berwajah serius dan pendiam. Dan memang seperti itulah ia, ternyata. Mungkin memang seperti itulah wajah kebanyakan para illustrator.
Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memanaskan sesi wawancara dengan pria yang pernah menjadi juri untuk Malaysian Books of Record dan Tiger Woods Art Exhibition, serta sejumlah besar Art Competition di Malaysia ini. Jawabannya tertata, dengan bahasa yang serius, seperti kesehariannya ketika berhadapan dengan murid-muridnya di The One Academy, Malaysia.
Bakat seninya bukanlah keturunan keluarga. Kinsun memperolehnya melalui pengembangan minat. ”Saya rasa, setiap anak kecil umumnya suka menggambar. Tetapi bagaimana mereka menggambar itulah yang menjadi pengembangannya,” kata Kinsun.
Kinsun sendiri mulai menggambar sejak ia sudah bisa memegang pensil. Tembok rumah menjadi media gambarnya penuh dengan gambar tokoh serial kartun Combat yang populer pada masa itu. Kinsun bercerita, ”Orang tua saya memberikan kebebasan bagi saya untuk melakukan apa saja, termasuk menggambar. Karena mereka mengategorikan itu sebagai hobi. Saya masih ingat ketika ayah saya memberikan beberapa lembar kertas yang diambil dari kantornya (karena kami bukan berasal dari keluarga cukup), lalu ia meminta saya untuk menggambar dirinya, ibu saya, dan orang-orang yang saya kenal. Saya melakukannya, dan itu menjadi salah satu memori masa kecil saya yang berharga.”
Tetapi hampir sama seperti kebanyakan orang-tua di jaman dulu, orang tua Kinsun juga tidak menyetujui keinginannya untuk memperdalam dunia ilustrasi. Kinsun memahaminya, ”Orang tua saya tidak mensupport keinginan saya bukan karena mereka membenci seni, tetapi karena mereka tidak begitu paham bagaimana cara seni memberi kita makan.”
Kinsun memperoleh beasiswa The One Academy, salah satu universitas seni terbaik di Asia. Ia lulus sebagai murid terbaik di angkatannya, dan diminta langsung mengajar di akademi tersebut. Sepanjang mengajar, ia menggelar beberapa kali pameran tunggal di Malaysia, diantaranya yang paling banyak dibicarakan di kalangan seniman kala itu adalah yang bertajuk Sun & Storm Exhibition (2004), dan Penciled Soul (2005).
Di kalangan desainer dan ilustrator Malaysia (dan Hongkong), nama Kinsun populer sebagai spesialis tokoh heroik. Ia memulainya dari komik politis berjudul Legacy of Power ketika menjelang tingkat akhir masa kuliahnya. Disusul dengan Zu warrior 2080, Hero, Storm Riders, dan Batman War Games. Namun meski di Amerika karyanya lebih dikenal melalui Batman, di Asia, justru Storm Riders-lah yang menjadi tangganya menuju Hollywood. Dan seperti komikus lainnya, Kinsun pun menyimpan keinginan untuk memfilmkan salah satu komiknya.
Sembari mengobrol, jari-jari tangannya yang memegang pensil bergerak cepat membentuk goresan tipis sebuah sosok tak terjelaskan. Sejurus kemudian, ia tengah memperhalus goresannya itu dengan aspek cahaya dengan sapuan pensilnya. Seraya menggambar, Kinsun berkata,” Ini hanya gambar singkat dan mudah. Mungkin setiap illustrator bisa melakukannya. Tetapi membuatnya menjadi sebuah cerita dan sesuai keinginan kreator aslinya itulah yang susah. Lain cerita bila tokoh itu merupakan karakter yang diciptakan oleh kita sendiri.”
Batman, merupakan tokoh tersulit yang pernah dikerjakannya. ”Ia bukan ciptaan saya, tetapi saya harus memberikan napas saya tanpa merubah bentuk aslinya. Ibaratnya seperti memberikan pikiran kita pada tubuh orang lain,” katanya mengenang. Bahkan, ia nyaris ’terbunuh’ oleh dirinya sendiri karena tekanan mengerjakan proyek yang diberi deadline satu bulan untuk satu buku itu. Ia bersembunyi di ’Batcage’nya selama 3 hari untuk memisahkan skrip, dan 24 hari untuk menggambar komik sebanyak 22 halaman.
Apa yang dipikirkannya ketika sedang menggambar? Kinsun menjawab, ”Setiap orang pasti ingin bisa menuangkan apa yang di dalam pikirannya dan apa yang ingin dikenangnya. Saya hanya menuangkan apa yang ada di kepala saya, dan memori yang saya miliki. If you want to create tomorrow, you have to understand yesterday.”
Pria yang lahir di Cameron Highland, dataran tinggi terindah di Malaysia ini mengaku bisa menggambar dimana saja asalkan sirkulasi udaranya segar. ”Saya tidak bisa menghentikan ide dan keinginan untuk menggambar bila itu muncul. Maka saya pun harus menggambar dalam kondisi apapun,” katanya.
Kebanyakan seniman senang menggambar wanita sebagai obyeknya. Menurut Kinsun, bagaimanapun perempuan adalah obyek gambar yang terbaik dan paling menarik. ”Perempuan memiliki proposional yang membuat bentuk outline menjadi menarik,” katanya. Lantas, siapakah perempuan yang paling ingin digambarnya? Kinsun menjawab enteng, ”Angelina Jolie sebagai Tomb Raider. She has a good proposition for me to design.”
Kinsun bukan lagi anak muda yang masih memperjuangkan idealisme dalam menggambar. Dengan mengajar, ia menyalurkan ilmunya. Melalui Kinstudio (perusahaan desain yang didirikannya sejak 2005), ia menyalurkan hasrat menggambarnya. “Saya bekerja untuk mencari keseimbangan. Saya melakukan apa yang saya senangi, dan sangat bersyukur bila ternyata orang lain dan terutama klien saya menyukainya,”
Tetapi Kinsun menentang prinsip ‘Art is my life’ seperti yang banyak diusung oleh para seniman kebanyakan. “Saya setuju dengan kalimat Life is Art. Tetapi Art is Life? Sounds like no more art, no more life, hahaha…” katanya. Menurut Kinsun apa yang dilakukannya selama ini adalah membuat art menjadi hidup, sehingga ia jadi menghidupi.