Posted by: elizabethfang on: November 4, 2008
Men Don’t Get It? Think Again
Seringkali, pria berpikir hanya karena mereka tidak pernah mengalaminya, maka berarti mereka tidak akan pernah menjalaninya.
Kali ini saya mengeksplorasi lima masalah kesehatan yang seringkali dikaitkan dengan kaum wanita, namun ternyata dapat juga dialami oleh kaum pria (meski seringkali tidak disadari).
Infeksi Saluran Kemih
Infeksi ini umumnya disebabkan oleh kuman atau bakteri yang juga hidup di area pencernaan yang menginfeksi saluran kemih. Dalam kondisi sehat, tubuh akan membuang bakteri di dalam sehingga tubuh tidak mengalami gejala apapun. Meski lebih dari sepertiga jumlah penderitanya adalah kaum perempuan, namun sesungguhnya pria juga tidak terlepas dari infeksi ini. Bagaimanapun juga, di dalam situasi sekarang, kita nyaris tidak dapat terhindar dari ancaman infeksi.
Pada pria, infeksi saluran kemih cenderung menyerang bagian prostat. Ironisnya, bila selama ini mitos mengatakan bahwa kehidupan seksual yang aktif dapat mencegah terjadinya kanker prostat, justru infeksi ini justru banyak menyerang pria seksual aktif. Ini dikarenakan pria, tidak seperti wanita, memiliki uretra yang lebih panjang. Pria yang lebih tua cenderung memperoleh infeksi saluran kemih akibat gangguan batu ginjal.
Infeksi saluran kemih pada pria juga dapat berkembang menjadi masalah prostat. Jika prostat tidak terinfeksi, ini dapat menjadi infeksi yang kronis di bagian tubuh yang lain. Gejalanya dapat berupa kedinginan, demam, nyeri di bagian punggung belakang dan area genital, frekuensi ingin kencing lebih banyak di malam hari, kencing terasa panas dan nyeri, dan nyeri pada bagian tubuh lain.
Solusi : Perbanyak minum air putih, kurangi jenis makanan yang berlemak (terutama goreng-gorengan).
Kanker Payudara
Payudara pria memang tidak seperti wanita, tetapi mereka juga memiliki lapisan tipis payudara, yang berarti mereka juga bisa mendapat kanker payudara. Meskipun, prosentasenya mungkin hanya satu diantara 100 ribu pria.
Salah satu faktor pemicu terjadinya kanker payudara adalah hormone estrogen, – yang dalam hal ini memang diproduksi lebih rendah oleh kaum pria.
Gejala kanker payudara pada pria hampir sama sepeti perempuan, – pembesaran abnormal pada payudara selain melalui obat-obatan ataupun terapi hormonal. Perubahan yang terjadi juga mencakup benjolan pada payudara, perubahan ataupun pendarahan pada puting. Tetapi hampir sama seperti pada wanita, penanganan terhadap penyakit ini juga akan lebih baik bila telah diketahui secara dini.
Solusi : Normal-normal saja bila kaum pria ingin melakukan Sadari (senam payudara sendiri) atau breast self-examination, meskipun mereka memiliki sejumlah kecil lapisan payudara sehingga lebih sulit untuk merasakan benjolannya. Namun, penanganan dini akan terasa lebih baik ketimbang membiarkannya dan membuatnya menjadi semakin lebih susah ditangani dan diobati.
Osteoporosis
Menurut data Asosiasi Osteoporosis Internasional tahun lalu, 85 persen penderita osteoporosis adalah kaum perempuan. Tidak hanya menyebabkan nyeri yang berkepanjangan pada bagian tulang, namun bila mencapai titik kronis, Anda bahkan tidak akan mampu berpijak karena tidak lagi memiliki penyangga tubuh.
Menurut Dr. Mickael Triangto, SpKO, osteoporosis pada kaum pria terkait dengan penurunan hormon testosterone. Disamping faktor usia, hal ini juga dapat mengakibatkan pria mengalami eating disorders.
Namun tidak seperti wanita yang mengalami menopause terlebih dahulu dan mulai mengalami densitas pengeroposan tulang secara cepat, pria malah mengalami sebaliknya. Osteoporosis terjadi lebih lambat pada kaum pria, umumnya setelah andropause atau berakhirnya masa produktif tubuh.
Solusi : meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung kalsium seperti susu (non lemak), keju, yoghurt, sarden (beserta tulang, susu kedelai, roti gandum, sereal, dan sayur-sayuran hijau. Takaran konsumsi yang dibutuhkan adalah 1000mg/ hari bersamaan dengan 100 IU vitamin D yang dapat diasup melalui suplemen tambahan.
Pre And Post Natal Blues
Pernahkah Anda mengidam ketika istri sedang hamil? Bisa jadi Anda adalah salah satu korban pre-natal blues. Banyak yang bertanya-tanya, mengapa hal ini dapat terjadi pada kaum pria padahal kehamilan dan perubahan hormone dialami oleh kaum wanita. Dr. Boy Abidin SpOG menjelaskan bahwa seperti halnya wanita, pria juga dapat mengalami depresi (bawah sadar) selama masa kehamilan berlangsung. Dengan kata lain, dapat disebut juga dengan depresi ‘reactive’. Hal ini seringkali tidak disadari karena gejala dan reaksinya nyaris mirip dengan stress harian.
Solusi : Batasi stres Anda antara pekerjaan dengan urusan rumah tangga. Ambil cuti sejenak dan lakukan bulan madu kedua bersama sang istri (meski ia tengah hamil). Bila masih memungkinkan, jangan menghentikan aktifitas seks selama masa kehamilan. Bercinta dalam posisi tertentu masih tidak membahayakan sang janin. Konsultasikan hal ini dengan dokter kandungan.
Anorexia Nervosa dan Bulimia
Dua nama terakhir ini lazim dikaitkan dengan penyakit para model atau selebritis. Ironisnya, meski banyak memakan korban pada kaum perempuan, namun banyak juga pria yang masih berpikir bahwa mereka ‘imun’ pada penyakit ini karena mereka adalah pria.
Ini tidak benar! Keduanya dapat terjadi pada pria maupun wanita. Ini dikarenakan Anorexia dan Bulimia tidak hanya terkait dengan pola makan ataupun berat badan, tetapi terutama bagaimana menggunakan makanan dan berat badan untuk membereskan masalah emosional.
Perbedaan antara anorexia dan bulimia terletak pada pola makannya. Dimana Anorexia makan lebih sedikit untuk menjaga agar berat badan mereka tetap utuh seperti yang diinginkan. Sedangkan bulimia cenderung tetap makan dalam porsi besar kemudian memuntahkannya kembali, atau membakar kalori, protein, dan karbohidrat yang diasupnya dengan mengonsumsi sejumlah pil pelangsing atau laksatif untuk menjaga berat badan mereka tetap kurus.
Kemungkinan terjadinya adalah 10:1 antara wanita dengan pria. “Terutama di kota besar, kemungkinan anoreksia dan bulimia umumnya terjadi pada pria metroseksual,” kata dr. Samuel Oetoro, SpGK, pakar gizi dari Semanggi Specialist Clinic Jakarta. Hanya saja, cara yang dilakukan oleh kaum wanita cenderung lebih ekstrim; makan sedikit dan memuntahkannya kembali.
Pria cenderung melakukannya dengan memperbanyak porsi latihan tubuh mereka, bukan dengan diet yang berlebihan. Namun seperti dikatakan oleh dr. Samuel, “Once in the dieting cycle, like women, men get locked into it like an addiction.”