Elizabeth Fang

Posted by: elizabethfang on: February 19, 2008

Mencari Aman Melalui Sarung Pengaman 

Efektivitas kondom sebagai pencegah penularan HIV kembali diragukan oleh banyak kalangan. Dinyatakan bahwa virus HIV lebih kecil dari pori-pori kondom sehingga virus pun bisa menerobos. Sejauh apa keamanan sarung pengaman ini? 

Sarung pengaman ini sudah dikenal sejak 1350 SM di Mesir, dibuat dari papirus yang dihias. Dalam mitologi Yunani, Raja Manos dari Kreta mengenakan pembungkus penis yang terbuat dari usus kambing untuk mencegah penyakit. Tahun 1564, kondom diperkenalkan secara ilmiah oleh Dokter Gabriel Fallopius dari Italia untuk mencegah infeksi penyakit kelamin.  Manusia pertama yang mengenakan kondom sebagai alat kontrasepsi adalah Casanova di tahun 1700. Tahun 1870 kondom mulai dibuat dari karet, dan tahun 1930 dari lateks. Sejak itu, kondom berkembang pesat di dunia. Tahun 1960 kondom menjadi alat kontrasepsi favorit di Inggris dan berbagai negara barat lain. Kemudian di 1980, ketika epidemi AIDS melanda dunia, pemakaian kondom lebih meluas lagi.  

Perlindungan ganda

Kondom adalah satu-satunya alat kontrasepsi yang mempunyai manfaat perlindungan ganda (dual protections): mencegah kehamilan sekaligus mencegah infeksi menular seks (IMS). Meski efektivitasnya lebih rendah dibandingkan alat kontrasepsi lain, di Jepang kondom digunakan sebagai alat kontrasepsi utama. “Pilihan alat kontrasepsi harus memperhatikan kecocokan dengan pemakainya. Kondom cocok digunakan pada pria yang pasanganya memiliki siklus haid teratur, sehingga perhitungan masa subur jelas,” papar Dr Adi Sasongko.  

Secara medis, kondom merupakan alat yang bertujuan mencegah terjadinya paparan pada dinding vagina, serviks, dan mukosa rahim dari semen (air mani) yang dapat mengandung sperma atau bibit penyakit. Alat ini bekerja menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan. Bahan kondom yang terbuat dari lateks dan vinyl dapat membantu mnecegah penularan mikroorganisme penyebab Infeksi menular Seksual. Ini termasuk Hepatitis B (HBV), Herpes, dan HIV/AIDS. Namun, kondom baru dapat berfungsi secara efektif bila pemasangannya benar setiap kali berhubungan seksual. Dikatakan oleh dr. Adi Sasongko, peneliti kondom dari Yayasan Kusuma Buana Jakarta, angka kegagalan pemakaian kondom hanya sedikit, sekitar 2-12 kehamilan per tahun. 

Ragam Bentuk, Ragam Fungsi

Selain lateks, kondom masa kini ada yang terbuat dari plastik PVC. Kelebihannya, lebih kuat dan tahan lama, dan sedang diteliti kemungkinan untuk bisa digunakan lebih dari satu kali. Tapi kelemahannya, produk ini tidak ramah lingkungan, karena terbuat dari plastik. Limbahnya baru akan hancur hanya bila dibakar. Sekarang bahkan muncul kondom dengan berbagai macam bentuk, seperti kondom bergerigi, berbulu, dan lain-lain. Tapi kondom-kondom jenis ini digunakan hanya untuk variasi permainan seks. 

Dikatakan oleh dr. Adi, variasi kondom tersebut aman digunakan jika pasangan tidak memiliki infeksi pada alat kelamin atau sekitarnya. Jika infeksi sudah ada, maka pemakaian kondom yang bentuknya bervariasi justru akan memperparah kondisi, atau malah memicu luka atau infeksi baru. Kondisi lainnya, papar dr. Adi, adalah bila pasangan belum cukup terangsang dan kelenjar bartolini tidak mengeluarkan cukup ‘pelumas vagina’, maka penggunaan kondom hanya akan membuat lecet bagian dinding vagina dan memicu infeksi.  

Menurut dr. Adi, beberapa tindakan pencegahan terbaik adalah dengan cermat memilih bentuk kondom. “Perhatikan pula kualitas bahan dan produsennya,” katanya. Cara lain adalah dengan menambahkan lubricant (cairan pelumas khusus kelamin) untuk mempermudah sewaktu terjadi gesekan antar kelamin.  Bila kaum pria enggan menggunakan kondom dengan alasan ketidaknyamanan, kini tersedia kondom khusus wanita. Berbentuk silinder dan terbuat dari bahan PVC.

Dikatakan dr. Adi, kondom wanita merupakan salah satu varian kondom yang aman. Bahkan, bisa membuat variasi bercinta terasa lebih menyenangkan. Untuk oral seks, misalnya. Kondom yang digunakan secara terbalik dapat melindungi lidah sewaktu melakukan oral seks pada pasangan. Varian kondom yang aman lainnya adalah kondom jari (fingers kondom). Kondom ini mulanya diciptakan untuk melindungi jari ketika menyentuh touchpad pada PDA. Namun pada akhirnya sarung ini banyak digunakan sewaktu melakukan rangsangan pada klitoris, sehingga melindungi alat kelamin dari kemungkinan tergores kuku.

Dibayangi Kontroversi

Meski memiliki multifungsi, kontroversi efektivitas kondom terus membayangi kampanye kondom sampai saat ini. Beberapa waktu lalu, kalangan rohaniwan Barat memprotes penggunaan kondom untuk “safe sex”. Mereka menyebut bahwa virus HIV 450 kali lebih kecil dari spermatozoon, dan spermatozoon dapat dengan mudah menerobos pori-pori kondom. Jadi, simpul mereka, kondom tidak aman untuk mencegah AIDS. Sedangkan kalangan rohaniwan Timur menyambut kampanye penggunaan kondom dengan protes beralasan moralitas.  Kondom sendiri ibarat prajurit yang berperang sendirian, dalam kaitannya dengan pencegahan penularan HIV/AIDS. Padahal HIV tidak hanya menular melalui hubungan seks tetapi juga kontak cairan yang mengandung HIV, misalnya transfusi darah atau penggunaan jarum suntik non-steril. Apapun kontroversi yang ada, keberhasilan penggunaan alat ini sebagai pencegahan penularan HIV/AIDS juga bergantung pada pemakainya. Jika digunakan dengan bijak dan tepat, efektifitas kondom akan dapat terasa.  ME / Liz 

Fakta Tentang Kondom Struktur pori-pori :

1. Dalam sebuah penelitian di AS yang dimuat di Consumer Reports tahun 1989, menyimpulkan bahwa dalam keadaan meregang, dengan pembesaran 30 ribu kali di bawah mikroskop elektron, pori-pori kondom tidak terlihat. Sementara dengan pembesaran yang sama, virus HIV telah dapat terlihat.

2. Kondom dibuat dengan teknologi vulkanisasi multi-layer, – dimana pori-pori pada tiap lapis akan tertutup lapisan yang lain.

3. Virus HIV tidak seperti ikan yang berenang di air sendirian. Struktur virus itu sangat primitif, dan hidupnya menempel pada sel darah putih. Ukuran sel darah putih sendiri lebih besar dari pori-pori kondom sehingga ia tak akan bisa masuk ke pori-pori itu.  

Efektivitas :

1. Laporan sebuah penelitian yang dilansir New England Journal of Medicine, Agustus 1994 menyatakan bahwa kondom sangat efektif untuk mencegah HIV. Uji coba dilakukan pada 245 pasangan heteroseksual yang salah satunya mengidap HIV. Sebanyak 124 pasangan selalu menggunakan kondom secara konsisten saat berhubungan seks. Hasilnya, setahun kemudian tidak terjadi penularan HIV. Sementara itu, 121 pasangan lainnya tidak menggunakan kondom secara konsisten selama berhubungan seks. Di sini ditemukan penularan HIV pada 12 orang pasangannya.

2. National Institute of Health, AS (Juli 2001), menyimpulkan setelah menelaah berbagai penelitian tentang efektivitas kondom, bahwa kondom efektif untuk pencegahan kehamilan, penularan HIV, dan gonorea.

3. Seperti juga helm dan sabuk pengaman, kondom memang tidak menjamin 100% aman. Tapi akan lebih bermanfaat mengenakannya daripada tidak sama sekali.

4. Kalaupun ditemukan kondom yang tidak efektif, itu bisa jadi karena sebab lain. Ada rangkaian panjang dari proses produksi, distribusi, hingga ke tangan konsumen yang tidak bisa terkontrol, yang bisa menyebabkan kerusakan kondom. Entah di proses penyimpanannya, display di kios-kios yang tidak terlindung dari matahari dan lembap, atau bahkan di tangan konsumen yang tidak tahu cara menggunakan kondom. 

Promiskuitas kampanye :

1. Kampanye kondom diberikan dengan tujuan pencegahan PMS dan HIV-AIDS dalam konteks pencegahan A-B-C (Abstinensia sexual-Be faithful-Condom). Kondom adalah jalan terakhir bagi orang-orang yang gagal melakukan A dan B sekaligus bentuk tanggung jawab supaya tidak menulari orang lain dan agar tidak tertulari orang lain.

2. Perilaku seksual berisiko merupakan perilaku yang dilatarbelakangi dan didorong oleh berbagai kondisi yang kompleks, seperti lingkungan, akses informasi, akses alkohol, pekerjaan, dan lain-lain. Karena itu, tahu tentang kondom atau memiliki akses pada kondom tidak serta merta membuat seseorang berperilaku promiskuitas.

3. Penelitian pada remaja di New York, membuktikan bahwa dampak dari penyuluhan AIDS (termasuk pencegahan dengan kondom) adalah: frekuensi hubungan seks dan jumlah pasangan yang berhubungan seks menurun (American Journal of Public Health, 1997).

4.  Studi meta analisis terhadap 174 literatur dan hasil penelitiannya dipublikasikan dalam Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes, edisi Maret 2006, menyimpulkan bahwa kampanye pemakaian kondom sama sekali tidak ada hubungannya dengan analogi mendorong untuk berhubungan seks dini atau hubungan seks berganti-ganti pasangan. Studi tersebut juga menyimpulkan bahwa informasi tentang kondom menjadi bagian penting dari motivasi perubahan perilaku dan frekuensi hubungan seks yang aman.  

Diolah dari bahan dr. Adi Sasongko, Yayasan Kusuma Buana Jakarta 

Untuk mengurangi tingkat kegagalan mengenakan kondom, dr. Adi Sasongko menyarankan beberapa tip untuk memilih dan mengenakan kondom dengan benar.   

Memilih kondom

1. Pilih yang memenuhi standar kualitas internasional, minimal ISO 4074.

2. Sebaiknya belilah kondom di apotek. Hindari membeli kondom di kios-kios eceran di pinggir jalan. Kemasan kondom yang sudah terpapar panas berkali-kali bisa membuat kondom rentan rusak.

3. Lihat tanggal kadaluwarsa. Jangan kenakan kondom melewati tanggal tersebut.

4. Selalu mengenakan kondom yang baru setiap kali melakukan hubungan seks.

5. Simpan kondom di tempat yang sejuk dan kering.  

Mengenakan kondom Pria

1. Buka kemasan dengan benar. Sebelum dibuka, pencet salah satu bagian tepi kemasan, geser kondom untuk menyisakan ruang untuk merobek, lalu robek kemasan. Ini untuk menghindari kondom tergores kuku pada saat merobek kemasan.

2. Pasang kondom segera setelah penis ereksi, jangan menjelang ejakulasi. Ini untuk mencegah masuknya sperma dan kuman ke dalam vagina.

3. Pemasangan kondom sampai ke pangkal penis. 

4. Segera cabut penis setelah terjadi ejakulasi, tahan kondom di pangkal penis dengan jari, agar kondom tidak lepas dan meninggalkan air mani di vagina.

5. Jangan gunakan bahan-bahan pelicin seperti vaselin, lotion, atau produk minyak lainnya karena dapat membuat kondom mudah robek.  

6. Jika kondom robek selama sanggama, gunakan segera spermisida (busa atau gel), dan pertimbangkan menggunakan kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilan.  

Mengenakan kondom wanita

1. Tahanlah pembungkusnya dan jepit ringnya hingga memanjang dan melebar.  

2. Perlahan masukkan kedalam vagina dengan memakai jari, dan tekanlah hingga menyentuh bagian serviks. Bila telah terpasang dengan benar maka Anda tidak akan dapat lagi merasakan ringnya. Ingat bagian atas ring harus berada diluar vagina.

3. Sebelum memulai berhubungan pastikan bahwa kondomnya telah terpasang dengan benar, lalu tambahkan pelumas yang memiliki kandungan air gar lebih nyaman dan tidak bersuara.

4. Setelah selesai berhubungan, tariklah ujung ringnya dan keluarkan.  

Sumber : DKT Indonesia 

1 Response to ""

thanx’s 4 information.
sangat membantu saya dalam mengerjakan skripsi tentang perkondoman
whehehehehe….

Leave a Reply


  • Mel: wah, sama banget sama dyahmega.... paling anti ntn fil horor zejak tinggal sendiri alias ng-kost. Biasanya abiz ntn fil horor yang ada kebayang2 gitu.
  • soni: sex adalah mncicipi surga pada saat kita masih hidup di dunia. tanpa sex hiudp bisa kacau.
  • Irfan: Biasa ja. Kurang mencekam ah.

Categories