Elizabeth Fang

Memburu Hantu Di Layar Lebar

Posted by: elizabethfang on: January 2, 2008

Mungkin baru lima tahun terakhir ini kita menyadari, bahwa tanah air ini tidak hanya memiliki kekayaan budaya, suku, bahasa, dan panorama. Sebanyak pulau-pulau yang merangkai republik ini, demikian pula ragam hantu di Indonesia!   

Entah apakah kita harus berbangga atau tidak, tetapi beberapa tahun belakangan ini, para sineas kita seolah menjadi anthropolog yang menggali kekayaan baru di negeri ini. Slogan ‘Back to Nature’ seolah menjadi pas untuk ditempelkan pada banyak bidang.

Sebenarnya, hasil eksplorasi para sineas ini bukanlah hal baru bagi masyarakat kita. Yang mengejutkan hanyalah jumlahnya. Ternyata, kita mengoleksi lebih dari seratus jenis hantu! Dengan catatan, itu adalah hasil yang baru dipublikasikan.

 

Eksplorasi Klenik

Hantu bukanlah benda baru bagi masyarakat kita. Tak sedikit yang mempercayai, di setiap sudut area memiliki ’penunggu’nya sendiri. Beberapa orang yang mengaku memiliki ‘sixth sense’ sering terlihat tak bergeming melihat sudut tertentu bila memasuki ruangan atau tempat tertentu. Rasa bergidik maupun ketakutan pun kerap melanda melihat hal tersebut, karena secara fisik, entah ada dimana para hantu itu. Terlepas dari benar atau tidaknya, para hantu itu kini sedang dieksplorasi. Hebatnya lagi, kini kita bisa melihat mereka tanpa memerlukan kekuatan gaib, sixth sense, ataupun mediator lainnya.

Gairah para sineas dengan bangkitnya film nasional mendorong mereka untuk mengeksplorasi ragam kehidupan. Ditandai dengan roman ala Ada Apa Dengan Cinta (AADC), kini melangkah ke dunia klenik.

Menurut pengamat film Nuruddin Asyhadie dalam majalah F, film horor hampir sama tuanya dengan film itu sendiri. Selang setahun setelah Robert Paul di London, Lumiere bersaudara  di Paris, dan Thomas Alva Edison di Atlanta pada tahun 1895 mendemonstrasikan fungsi proyektornya, tahun 1896, Georges Méliès membangkitkan hantu-hantu dari kubur dan merekamnya dalam Le Manoir du Diable.

 

 

Di Indonesia sendiri, butuh waktu hampir setengah abad untuk memindahkan bentuk hantu ke layar kaca. Film horor Indonesia pertama yang tercatat adalah Tengkorak Hidoep yang dibuat empat tahun sebelum proklamasi.

Gebrakan pertama film horor Indonesia di abad ke-20 dilakukan oleh sineas Rizal Mantovani dan Jose Purnomo melalui film Jelangkung. Kekuatan fotografi, editing, lighting, dan tata suara menjadi beberapa faktor kesuksesan film tersebut. Seolah ingin mencicipi kesuksesan yang sama, para sineas lain pun berlomba-lomba membuat film bergenre sama. Sebut saja Tusuk Jelangkung yang disutradarai oleh Dimas Djayadiningrat, dan jumlah penontonnya nyaris menyamai penonton Jelangkung. Kemudian, muncul pula seperti The Soul (2003) yang kekuatan fotografinya mendapat penghargaan dalam Festival Film bandung, Ada Hantu di Sekolah, dan Bangsal 13 yang muncul di tahun 2004. Di tahun berikutnya, Nirina, presenter imut yang catatan sinematografinya bergenre cinta, mencoba peruntungan aktingnya dalam Mirror garapan sutradara muda Hanny R. Saputra.

Eksplorasi Karakter

Kekuatan karakter dan plot menjadi faktor penting untuk menggiring emosi penonton masuk ke dalam cerita. Jika film roman mengumbar air mata, komedi mengundang tawa, maka film horor seharusnya dapat membuat jantung penonton berdegup kencang.

Dalam pengamatan melalui berbagai forum diskusi terutama di dunia maya, banyak netter yang mengomentari fenomena film horor ini. Kekuatan cerita, karakter, dan wujud hantu terutama menjadi sorotan. Hampir semua penonton film horor Indonesia mengakui bahwa bintang yang mampu membawakan karakter tokoh misteri dengan baik hanyalah Suzanna.  

Aktris yang melekat erat dengan karakter Ratu Pantai Selatan ini diakui memiliki kekuatan mimik, body language yang kuat untuk berbagai karakter yang bergenre misteri ataupun horor. Seorang teman pengamat film bahkan berkomentar, “Kalau nonton film-film horor sekarang, merindingnya hanya sebentar. Tetapi kalau memutar kembali film-film yang dibintangi Suzanna, rasanya bulu kuduk ini tak mau tidur lagi.“   

Bagi penggemar film horor, karakter hantu Indonesia dalam film-film yang muncul belakangan ini dianggap masih kurang menakutkan. Ini berbalik dengan sebagian besar masyarakat yang menanggapi maraknya fenomena ini dengan kalimat ’menjual kengerian dan ketakutan’. Namun, apa tujuan sebenarnya film horor dibuat?

Dalam catatan online pribadinya, Yudi Prakasa, pengamat film dari Institut Kesenian Jakarta, menganalisa hal ini dengan menggunakan teori Hirarki Kebutuhan Maslow (Maslow’s Hierarchy of Needs).

Dalam teorinya ini, psikolog Abraham Maslow menyatakan bahwa sewaktu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, manusia juga akan berusaha memenuhi kebutuhan yang “lebih tinggi” sesuai hirarkinya. Analisa Yudi, ketika para penonton sudah memenuhi kebutuhannya dengan film seks, maka kini mereka sudah berada setingkat diatasnya. Maka, para produser pun membuat film-film dengan tema horor yang dimaksudkan  untuk variasi tetapi ternyata tak sedikit yang menganggapnya malah mengusik rasa aman yang diperlukan manusia.  

Eksplorasi Budaya

Hantu itu adalah bagian dari budaya sebuah bangsa. Mengejutkan memang, tetapi itulah yang terjadi. Fenomena film horor sendiri sudah menjadi bagian dari kebudayaan bangsa-bangsa di Asia.

Amerika mengenal hantunya sebagai The Vanishing Hitchhiker (penumpang misterius), The Bell Witch,  serta hantu animasi Slimmer dalam film Ghostbuster dan Casper. Ranah Eropa mengenal hantunya dalam wujud drakula atau vampir, The Flying Dutchman, Bloody mary, dan King Hamlet, – kesatria berbaju besi, membawa pedang dan mengendarai kuda. Hantu yang tertua mungkin dikenal sebagai Mummy yang merupakan perwujudan bangkitnya mayat raja-raja Mesir terdahulu dari dalam Pyramid. Jepang dan Korea menempatkan hantunya di dalam sumur dalam bentuk umum sebagai wanita cantik berbaju putih, berambut panjang, dan seringkali berwajah rusak.

Tetapi eksplorasi para sineas yang dimulai sejak setengah abad lalu menunjukkan bahwa jumlah hantu di Indonesia hampir menyamai jumlah pulau di negeri ini. Suster Ngesot dikenal berasal dari legenda suster yang meninggal di sebuah Rumah sakit di Surabaya. Hantu Terowongan Casablanca dikenal berasal dari kumpulan arwah yang mati penasaran di areal jalan Casablanca Jakarta. Demikian pula penemuan baru dari sebuah rumah mewah di Pondok Indah yang ditengarai merupakan sarang dari beragam jenis hantu. Bila hantu dikenal dengan wujudnya yang buruk rupa dan mengerikan, tidak halnya dengan sosok Si manis Jembatan Ancol yang  tenar karena rupa cantik dan tubuh seksi. Bahkan Bali yang dikenal dengan Pulaunya para dewa juga mengenal sosok Leak sebagai bagian dari budayanya.

Terlepas dari ragam wujud sosok hantu yang ada, film horor adalah fenomena yang harus dihadapi para penikmat film. Namun kita tidak bisa menyangkal bahwa sebuah fenomena dalam dunia hiburan juga ditentukan oleh animo masyarakat itu sendiri. Jika demikian, maka seperti halnya cinta, hantu pun kini menjadi sesuatu yang abadi. ME / liz

3 Responses to "Memburu Hantu Di Layar Lebar"

Jujur, saya termasuk orang yang kurang tertarik menyiksa diri dengan menonton tayangan berbau horror semacam itu (apalagi saya penakut), film horror yang saya tonton mungkin lebih ke western style soalnya kita gak bersinggungan langsung dengan atmospher para hantunya.
Menonton di Tv saja enggan apalagi meluangkan waktu untuk menonton ke bioskop yang suaranya surround, bisa gak tidur semingguan deh ^^;
Kalau hantu adalah artis atau aktor, mereka mungkin sudah kaya di Indonesia karena akan sering mengisi layar kaca atau bioskop-bisokop dengan film horror yang membuat bulu kuduk berdiri, karena masyarakat kita memang punya budaya senang ‘ditakut-takuti’. Hal itu semacam kebutuhan akan ketegangan yang kadang diperlukan terutama oleh masyarakat kota besar yang membutuhkan penyaluran untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas. Menjerit, gemetaran benar-benar suatu bentuk luapan emosi yang bebas dan hal itu bisa didapat salah satunya dari menonton film horror.
Artikelnya bagus terutama bagian jenis-jenis hantu menurut daerah, bagi beberapa orang yang penakut jadi punya pilihan untuk menonton horror jenis lain selain horror Indonesia seperti south asia horror movie (Sadako, Ju on), us (Friday the 13th), europe (vampire, dracula) dsb. Nice, Keep writing! ;)

Biasa ja. Kurang mencekam ah.

wah, sama banget sama dyahmega…. paling anti ntn fil horor zejak tinggal sendiri alias ng-kost. Biasanya abiz ntn fil horor yang ada kebayang2 gitu…

Efek ntn horor bisa semingguan gitu.. jadi spoky terhadap segala hal

Leave a Reply


  • Mel: wah, sama banget sama dyahmega.... paling anti ntn fil horor zejak tinggal sendiri alias ng-kost. Biasanya abiz ntn fil horor yang ada kebayang2 gitu.
  • soni: sex adalah mncicipi surga pada saat kita masih hidup di dunia. tanpa sex hiudp bisa kacau.
  • Irfan: Biasa ja. Kurang mencekam ah.

Categories